1).
Di Indonesia, saat pacaran biasanya para pria yang harus repot
mengantar jemput wanitanya. Tetapi lain halnya dengan di Jepang, karena
di Jepang sebagian besar penduduknya tidak menggunakan
sepeda motor/mobil melainkan menggunakan kereta sebagai sarana
transportasi, sehingga pasangan yang pacaran lebih banyak bertemu di
stasiun daripada menjemput ke rumah pasangannya. Begitu juga saat pulang
kencan, si pria tidak akan mengantar pacarnya sampai ke rumahnya.
Mereka biasanya akan berpisah di stasiun. Ketika sudah sampai di rumah,
si pria akan mengirimkan sms ke pacarnya untuk memastikan bahwa pacarnya
telah sampai di rumahnya dengan keadaan selamat.
(Individu memang berbeda, tapi, inilah kenyataan dan mereka akan bingung melihat segala sesuatu na mesti di antar or di jemput)2). Di Jepang, tidak ada tradisi yang mengatakan bahwa si pria harus membayar makanan pacarnya. Setelah makan, mereka akan bayar masing-masing. Hal yang terpenting jangan lupa bawa dompet! Dan jangan harap pasanganmu akan mentraktirmu. Tetapi jika dia mentraktirmu, jangan lupa membayar traktirannya di lain hari. Ini merupakan sebuah kewajiban, jadi jangan pura-pura lupa ya! Mungkin wanita Jepang lebih mandiri daripada wanita Indonesia ya?
(Tergantung dari individunya, tapi boleh jujur ini kenyataan, jangankan pacaran, orang kita aja ajak traktir bilangnya terima kasih tapi terusan nya besok-besok kayak gini lagi ya or dach 3 kali ditraktir gk sedikit pun bergeming alias gantian traktir alias dablek na bukan maen)
3). Pasangan yang berpacaran di Jepang tidak akan mengatakan “愛してる (aishiteru)” ke pasangannya. Mereka hanya akan mengatakan “大好き(daisuki)“. Hal ini karena ungkapan “aishiteru” hanya diungkapkan jika mereka sudah memutuskan akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Jadi ada perbedaan arti antara daisuki dan aishiteru. Daisuki artinya “aku sangat menyukaimu” atau “aku benar-benar menyukaimu”. Sedangkan Aishiteru artinya lebih dalam “aku sayang kamu” atau “aku mencintaimu”. Jadi jangan kaget apabila pacar Jepangmu mengatakan“kimi no koto ga suki”. Itu bukan berarti dia tidak benar-benar cinta kepadamu, hanya saja itu sebuah tradisi.
(Lain di Indonesia laen di Jepang, pandangan seperti ini yang saya suka….ngomong cinta kok diobral-obral :D

Silahkan Kirim Commentar anda :)
ReplyDelete